makalah Yaser Audah

Petikan ceramah Prof. Jasser Audah : Adalah sebuah kehormatan bagi saya untuk berada di tengah2 saudara sekalian, sebgai pembicara hari ini. Pembicara di hdapan generasi masa depan, yang akan memperbaiki status peradaban umat islam. Meski banyak kesulitan yang akan dihadapi, tetapi saya optimis, berdasarkan pengalaman saya dan pembicaraan saya dengan banyak orang indonesia, bahwa kesulitan itu akan dikalahkan dan akan menjadi pencetus sebuah pembaruan dalam perjalanan sejarah ummah ini. Saya dengar bahwa ada rencana untuk membukan jurusan ekonomi islam di fakultas ini. Biarkanlah kita berpikir pelan-pelan mengenai rencana itu, dengan mengarahkan pertanyaan dasar: apakah yang pantas disebut “islami” (bersifat islami), karena hari ini banyak “label” islami tetapi belum tentu demikian. Kita punya negara islam, bank islam, sampai lagu islam... Di tailand kemarin, saya diundang untuk menghadiri “film islami”, “film islami yang pertama”, ketika saya tanya: indikatornya apakah? Mereka menjawab bahwa tiada perempuan sama sekali dalam film itu! Apa lagi?? Tiada musik. Taiada irama apa pun? Mereka menjawab bahwa kita membuat suara musik dengan mulut kita. Tiada kisah! Kisah satu-sautnya adalah kisah nabi dan sahabatnya. Saya kembali menanyakan: apakah kalian punya penonton? Mereka jawab 3 bulan sinemanya penuh! Hemat saya, indikator2 yang disebut itu belum islami. Islam mengharuskan adanya kisah yang dapat merubah karakter orang, membuat perubahan positif pada dirinya dan masyarakatnya. Cerita yang sama kita dapat temukan di perbankan islam. Pada pintu dan dinding bank itu banyak ayat dan hadis, wanita dan laki2 terpisah tempatnya, akan tetapi kegiatan esensi dari bank tetap mirip sekali dengan transaksi di bank-bank konvensional. Banyak persaksian datang dari teman-teman aktif di perbankan islam yang mereka utarakn bahwa kita hanya membuat “trik-trik” (hilah) dalam bahasa fikih untuk menyisati kontrak-kontrak konvensional, tiada nilai tambah yang hakiki yang dikemukakan oleh perbankan jenis itu, sama dengan film islam tailand tadi. Pernah saya berbincang2 dengan salah satu kepala partai islam di salah satu negara arab, saya tanya: program ekonominya apa? Mereka meminta saya utnuk mengomentari program itu. Saya balik bertanya: apakah perbedaan antara kalian dan proposal lawan? Mereka menjawab: kami hanya mengislamkan program yang sudah ada, dengan menambah ayat di sana dan hadis di sini! Jadi, ketika ada kebijakan untuk menghemat, tinggal kita tambahkan ayat dari surah yusuf mengenai penyimpanan pangan. Ketika ada kebijakan mengenai penggunaan sumber daya, kita tambahkan ayat mengenai “ditundukkannya segala yang di langit dan bumi untuk manusia” .... dst. Saya senang sekali bahwa saya diundang sebelum program itu dimulai. Karena kita masih punya waktu untuk memikirkannya bersama-sama, khususnya falsafah dari program itu. Jangan sampai kita tetap meminjam buku2 induk barat, lalu kita tambahkan hadis dan ayat. Poin pertama yang kita perlu memperhatikannya dalam rangka ini adalah perbedaan antara ekonomi konvensional dan ekonomi islam adalah orientasi materialis dari yang pertama; uang, pertumbuhan material, kuantiti. Akan tetapi, menurut islam, hal terakhir yang dipikirkan oleh islam adalah akumulasi uang atau kekayaan. Islam tidak mempedulikan akun bank kita. Islam mementingkan apa yang disebut maksud-maksud utama syariat. Bukan soal ayat yang dipajang atau musholla yang harus ada dalam bank. Islam memberikan prioritas utama untuk membina manusia. Ekonomi islam adalah, untuk prioritas peratama, adalah manusia. Manusia itu, memang, harus mencari pekerjaan, memiliki harta dan menikah. Akan tetapi, yang terpenting adalah membina manusia, manusia itu harus kuat, kuat iman, kuat mental dan kuat sehat, sekalipun tidak banyak harta. Memilik pendapatan sedikit, tetapi kuat secara menyeluruh lebih baik dari memiliki pendapatan banyak tetapi lemah dan mengabdi kepada sistem ekonomi global, yang justru anti-islam. Poin lain yang kita perlu bicarakan dalam rangka ini adalah soal “konsentrasi harta”. Quran melarang keras konsentrasi harta pada elit ekonomi tertentu. Di mana-mana, termasuk di negara maju, orang kaya tidak lebih dari 10%, sedangkan sisa rakyat hanya membanting tulang bekerja untuk menyetor uang kembali kepada elit itu. Islam, dan ekonomi islam, mementingkan “makro ekonomi” ketimbang “mikro ekonomi”. Poin ke tiga, adalah model yang perlu kita tiru. Apakah harus kita tiru model arab karena mereka orang islam? Hemat saya, ekonomi islam di negara arab, sama aja, mengenai “pemodalan” dan uang. Belum ada “teori ekonomi makro” yang benar-benar mencerminkan nilai-nilai islami. Teori tersebut tidak boleh diambil dari barat maupun dari arab. Teori tersebut harus ditarik langsung dari quran dan sunnah. Teori tersebut harus dihadirkan kembali di jantung proses pendidikan dan kebijakan kita. Quran meletakkan manusia di senter perhatiannya, jauh dari kepentingan perusahaan maupun negara. Quran mementingkan pendidikan manusia dan penghasilan manusia yang terpelajar dan tercerahkan sebagai prioritas pertama. Islam tidak memikirkan orang islam saja, tetapi memikirkan semua umat manusia. Ekonomi islam, nanti, mementingkan pelestarian agama, nyawa, akal, keturunan, kehormatan dan harta. Poin lain yang perlu kita perhatikan dalam membina ekonomi islam adalah orientasinya yang pro-lingkungan. Islam milik Allah SWT, dan Allah SWT adalah pencipta dari segala makhluk. Sehingga, ketika kita hendak membangun ekomomi islam, perlu kita menjadikannya sebaga realisasi amanat Tuhan kepada manusia untuk menjadi pemelihara dari sistem wujud sekitar kita. Dalam ekonomi islam, bagian senter diduduki oleh perintah Allah SWT, sedangkan dalam sistem-sistem ekonomi lain, bagian senter diduduki oleh perintah manusia. Sehingga, perintah Allah SWT untuk melestarikan alam perlu menjadi ideologi dasar bagi ekonomi islam. Poin lain yang perlu kita perhatikan adalah konsep arabi yang digunakan dalam ekonomi islam. Konsep arab (quran) sangat khas. “bii’ah”, misalnya, yang sering diterjemahkan sebagai “lingkungan” memilik makna yang berbeda, yang mencerminkan bahwa di balik tempat yang kita huni itu ada uapay Tuhan untuk mempersiapkannya kepada manusia. Poin lain yang perlu kita pikirkan bersama ketika hendak membukan jurusan ekonomi islam di kampus ini, adalah memikirkan risalah utama dari UNY, yaitu kampus pendidikan. Bagaimana kita arahkan ekonomi islam untuk melayani isu pendidikan. Poin lain, yang masih berkaitan dengan ekonomi islam sebagai jurusan di kampus ini, adalah sikap ekonomi dari umat yang perlu kita bina. Pertama sikap itu jangan sampai tertular dengan sikap berjudi, yang kadang-kadang diperhalus menjadi bursa atau stock market. Sikap ekonomi harus menekan pada produksi dan merubah realitas secara produktif. Sistem ekonomi kita semakin banyak memproduksi angka dan orang yang banyak angka kekayaannya, tetapi mayoritas penduduk tetap tidak berpengetahuan dan tidak sehat secara cukup. Poin lain yang kita perlu pikirkan adalah implikasi beberapa ide mengenai ekonomi islam itu; implikasinya terhadap kurikulum yang bakal kita ajarkan kepada mahasiswa kita. Kita perlu mendasari kurikulum kita pada ide “pembangunan menyeluruh” bukan pada konsep “finance”. Kita perlu mengritik secara mendasar pola pembangunan yang berjalan saat ini. Di samping itu, kita perlu menilai secara baik peran indonesia dalam peradaban islam dan umat manusia. Kita perlu memikirkan karakter orang indonesia. Kurikulum jangan sampai menekan pada pengetahuan saja, tetapi perlu membina karakter. Orang indonesia rendah hati, dan itu baik. Tetapi harus memeiliki rasa bangga dan berani. Orang indonesia harus bersuara lebih keras lagi, termausk mengritik orang arab dalam sikapnya yang kruang baik terhadap ekonomi islam dan keislaman. Banyak program dan jurusan tiba2 muncul dan tiba2 juga hilang, sya menghimbau anda agar tidak terjadi hal yang sama di sini, marilah kita berpikir lebih jernih dan positif, saya yakin anda mampu melakukannya. Saya tidak menglaim bahwa setiap hal (semua) yang terjadi di bursa adalah perjudian, melainkan saya beri contoh mengenai bisnis yang terarah oleh “making money” , tanpa membuat harta yang hakiki, harta yang strategis, tidak membina manusia, tidak membangun infrastruktur yang kuat. Pengalaman saya di negara arab demikian, mereka menaikkan angka diagram uang di monitor komputer tanpa usaha yang hakiki dalam membangun manusia. Mereka kaya dari penjualan minyak, tetapi uangnya mereka investasikan, kebanyakan, pada sektor keuangan di barat. Saudaraku, perlu anda memandang hal itu secara kritis. Tiada kata terperangkap, selalu ada kesempatan untuk keluar dan menyelamatkan diri serta membangun realitas baru. Saya lama hidup di inggris, banyak warganya mulai muak dengan ekonomi konvensional dan mereka beralih kepada praktek ekonomi islam, karena saat krisis banyak perusahaan barat yang jatuh tetapi yang islam tidak. Pasti sistem itu sangat kuat, akan tetapi, jika kita berhasil merancang dengan matang sebuah model yang membuktikan bahwa sistem tanpa bunga itu dapat menguntungkan dan lestari serta menjamin sirkulasi uang secara adil, orang akan beralih sendiri ke sistem kita. Persoalannya adalah kita belum menggagas model tersebut. Tantangannya adalah membebaskan metode investasi kita dari pola hutang-menghutang secara besar-besaran, bagaimana kita dapat memproduksi tanpa terpaksa ke sana. Indonesia adalah bangsa yang besar, apabila berhasil, banyak orang akan menirunya Reformsi politik tidak boleh berjalan sendiri maupun didahulukan dari reformasi budaya. Saya menulis banyak buku mengenai hal itu. Di negara arab, di negara isalm pada umumnya, kita menderita dari banyak masalah sosial. Tidak cukup mengganti presiden atau pemerintah, karena hal itu tidak akan merubah sistem. Sistem adalah manusia. Apabila kita memiliki manusia yang baik, pemerintah pasti akan baik secara otomatis. Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum kecuali mereka merubah diri mereka sendiri.